“Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan tertinggi dari organisasi kepada kami yang telah mengabdikan separuh hidup untuk kerja-kerja jurnalistik. Kami sudah pernah mengalami tekanan, intimidasi, bahkan kekerasan fisik. Rumah kami pernah didatangi malam-malam, diminta menghapus berita, dijebak, bahkan diteror secara psikologis. Tapi Alhamdulillah, semua itu kami lewati dengan baik,” ungkap Rikky, yang mengawali karier jurnalistiknya di Majalah Forum Keadilan, Nalar, dan Mapikor.
Ia menegaskan, jurnalis sejati harus selalu memegang prinsip dasar jurnalistik, yaitu pemberitaan yang berimbang dan berbasis bukti, bukan opini atau asumsi belaka.
Acara puncak perayaan HUT PJS ke-3 berlangsung khidmat dan meriah. Dimulai dengan pembukaan dan doa bersama, dilanjutkan dengan sambutan dari Dewan Penasehat, Pembina, Pakar, serta Ketua Umum PJS.
Pemberian penghargaan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu. Selain penghargaan SJC, panitia juga menganugerahkan PJS Award 2025 kepada sejumlah tokoh publik dan masyarakat dari berbagai provinsi
Para penerima penghargaan ini adalah mereka yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam mendukung kemerdekaan pers dan kebebasan berekspresi di wilayahnya masing-masing.
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi dari komunitas jurnalis kepada pihak-pihak yang telah menjadi garda pendukung bagi kebebasan pers di Indonesia.
Melalui momentum ini, PJS menegaskan komitmennya sebagai organisasi jurnalis yang tidak hanya aktif membangun solidaritas antarsesama pewarta, tetapi juga menjunjung tinggi etika, keberimbangan, dan keberanian dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Dengan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap profesi, HUT ke-3 PJS menjadi simbol keteguhan wartawan Indonesia untuk terus berkarya di tengah tantangan zaman yang terus berubah. (Wenki/KBO Babel)





