Dalam pemaparannya, Andri juga menjelaskan pendekatan teknologi yang diusung Thorcon, yang disebutnya sebagai revolusi dalam industri nuklir modern.
Thorcon mengembangkan reaktor garam cair (molten salt reactor) dengan konsep pembangkit listrik modular yang dibangun di galangan kapal.
Model ini dinilai mampu memangkas waktu pembangunan secara signifikan. Jika PLTN konvensional membutuhkan waktu belasan tahun, metode pembangunan di galangan kapal memungkinkan konstruksi 5 hingga 7 kali lebih cepat, sekaligus menekan biaya.
“Reaktor dibangun seperti membangun kapal. Setelah selesai, baru dikirim ke lokasi operasi,” jelasnya.
Dari sisi kapasitas, pembangkit listrik yang dirancang Thorcon memiliki daya hingga 500 megawatt (MW), yang dihasilkan dari dua reaktor masing-masing 250 MW.
Kapasitas ini dinilai cukup besar untuk menopang kebutuhan energi jangka panjang, terutama bagi kawasan industri.
Isu keselamatan, yang kerap menjadi kekhawatiran utama publik, juga menjadi sorotan Andri. Ia menegaskan bahwa reaktor Thorcon dirancang dengan sistem keamanan pasif, yakni sistem yang secara otomatis menstabilkan kondisi reaktor tanpa membutuhkan tindakan langsung dari operator.
“Dalam kondisi darurat, sistem justru berhenti dan aman dengan sendirinya. Ini teknologi generasi baru yang belajar dari pengalaman masa lalu,” tegasnya.
Diskusi publik ini memperlihatkan bahwa rencana PLTN di Bangka Belitung bukan persoalan hitam-putih. Di satu sisi, ada kebutuhan energi dan industrialisasi. Di sisi lain, ada tuntutan transparansi, keselamatan, dan kepercayaan publik.
Melalui forum ini, Andri menegaskan bahwa tahapan awal nuklir di Indonesia harus dibangun dengan pendekatan ilmiah, terbuka, dan berbasis regulasi, bukan sekadar ambisi proyek.





