Teh Tayu, Aroma Khas dari Jebus yang Kini Mengharumkan Nama Bangka Belitung di Dunia

Perjalanan Teh Tayu hingga dikenal luas tentu tidak terjadi dalam semalam. Sugia Kam mengaku memulai semuanya dari langkah sederhana, memperkenalkan Teh Tayu dari lingkungan kecil di Bangka Barat.

Namun perlahan, produk khas Jebus itu mulai menarik perhatian berbagai kalangan. Dari promosi lokal, Teh Tayu kemudian tampil di sejumlah pameran dan galeri internasional, bahkan berhasil masuk galeri di Paris, Prancis.

“Awalnya kami hanya memperkenalkan di daerah sendiri. Pelan-pelan mulai dikenal lebih luas sampai akhirnya bisa masuk galeri di Paris. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jebus,” katanya dengan mata berbinar.

Di balik capaian tersebut, Sugia Kam mengaku perjuangan menjaga Teh Tayu masih menghadapi tantangan besar. Salah satu persoalan paling serius adalah semakin berkurangnya jumlah petani Teh Tayu di Jebus.

Tekanan ekonomi membuat banyak petani memilih beralih menjadi petani kelapa sawit yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial. Kondisi itu membuat keberlangsungan Teh Tayu perlahan berada di titik yang mengkhawatirkan.

“Sekarang petani Teh Tayu semakin sedikit. Banyak yang beralih ke sawit karena dianggap lebih menjanjikan. Kalau tidak ada perhatian serius, kami khawatir Teh Tayu bisa perlahan hilang,” ujarnya prihatin.

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Di saat Teh Tayu mulai dikenal dunia internasional, keberadaan petani lokal justru semakin menyusut. Padahal, Teh Tayu bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan identitas budaya dan potensi wisata yang besar bagi Bangka Barat maupun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Karena itu, Sugia Kam berharap pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Bangka Barat maupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dapat lebih serius memberi perhatian terhadap pengembangan Teh Tayu.

Menurutnya, dukungan promosi, pembinaan petani, hingga penguatan pasar sangat diperlukan agar Teh Tayu mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah yang berdaya saing tinggi.

“Kami berharap pemerintah ikut membantu promosi Teh Tayu agar lebih dikenal masyarakat luas, bahkan dunia. Ini bisa menjadi ciri khas minuman asal Bangka Barat sekaligus membantu perekonomian masyarakat,” harapnya.

Kehadiran Sugia Kam di Kantor KBO Babel pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Perjuangannya dinilai menjadi simbol keteguhan masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya dan potensi alam daerah di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan ekonomi.

Kini, Teh Tayu bukan lagi sekadar minuman tradisional khas Jebus. Ia telah menjelma menjadi simbol perjuangan masyarakat akar rumput yang terus bertahan menjaga identitas daerah, sekaligus membawa harum nama Bangka Barat hingga ke panggung dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *