Melihat kondisi tersebut, PMI Bangka Selatan menggencarkan program Peduli Thalasemia, yakni gerakan sosial yang fokus menggalang dukungan donor darah untuk pasien thalasemia. Program ini melibatkan instansi pemerintah, TNI/Polri, perusahaan swasta, organisasi masyarakat, hingga komunitas pemuda.
Tidak hanya itu, PMI juga meluncurkan Komunitas Pendonor Desa, sebuah wadah yang menghimpun relawan donor darah dari berbagai desa. Dengan adanya komunitas ini, PMI berharap stok darah dapat lebih terjaga, sekaligus memudahkan keluarga pasien thalasemia ketika membutuhkan transfusi.

Ketua PMI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Drs. H. Abdul Fatah, M.Si., turut memberikan apresiasi atas langkah PMI Bangka Selatan. Menurutnya, kepedulian terhadap pasien thalasemia harus menjadi tanggung jawab bersama. “Mereka adalah bagian dari kita. Tidak ada yang bisa menggantikan darah selain dari manusia. Karena itu, solidaritas masyarakat adalah kunci untuk membantu anak-anak thalasemia agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik,” ujarnya.
Meski berbagai upaya terus dilakukan, PMI Bangka Selatan masih mengimbau masyarakat luas untuk rutin melakukan donor darah. Pasalnya, kebutuhan darah bagi pasien thalasemia tidak bisa ditunda. Semakin banyak relawan donor yang aktif, semakin besar harapan bagi 25 pasien thalasemia di Toboali untuk tetap tersenyum dan menjalani hidup dengan semangat.
HUT PMI ke-80 tahun ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kepedulian masyarakat. Dengan semangat kemanusiaan, diharapkan makin banyak pihak yang tergerak menjadi penyelamat bagi mereka yang hidupnya bergantung pada setetes darah.





