TOBOALI, Radarnyamuk.com – Hidup dengan thalasemia bukan perkara mudah. Begitulah yang dialami sedikitnya 25 pasien penderita thalasemia di Kabupaten Bangka Selatan, khususnya di wilayah Toboali. Setiap bulan, mereka membutuhkan pasokan darah dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mempertahankan kesehatan dan keberlangsungan hidup.

Sayangnya, ketersediaan darah di PMI Bangka Selatan seringkali tidak mencukupi kebutuhan tersebut. Kondisi ini membuat pasien dan keluarga harus berjuang keras, bahkan mencari donor sendiri, demi memenuhi transfusi darah rutin yang harus dijalani.

Ketua PMI Bangka Selatan, Hj. Debby Vita Dewi, S.E., M.M., mengungkapkan bahwa thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang mengharuskan penderitanya melakukan transfusi secara berkelanjutan. “Anak-anak thalasemia di Toboali ini rata-rata membutuhkan transfusi setiap Satu Bulan Sekali. Kalau tidak terpenuhi, kondisi tubuh mereka bisa drop dan membahayakan,” jelasnya saat ditemui usai peringatan HUT PMI ke-80, Minggu (28/09/2025).
Ia menambahkan, PMI terus berupaya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk menjaga ketersediaan stok darah. Namun, jumlah kebutuhan pasien thalasemia yang tinggi membuat tantangan ini semakin besar. “Ada 25 pasien yang rutin membutuhkan darah. Bayangkan jika masing-masing butuh dua sampai tiga kantong dalam satu kali transfusi, artinya dalam sebulan bisa mencapai ratusan kantong darah,” ungkap Debby.
kisah Dua Bersaudara sela oktika(23) dan Fauzan Setiawan(14) dalam kebutuhan darah setiap bulannya….ayah yadi dan ibu dewi warga bukit Toboali….sang ayah pendonor darah sukarela gol darah B…yg selalu mendonorkan dirinya buat anak anaknya,Ayah dari dua orang anak penderita thalasemia. Ia mengaku sering kali harus menghubungi kerabat atau teman untuk ikut mendonorkan darah ketika stok di PMI habis. “Kalau lagi kosong, kami bingung mau cari kemana dan Harus cepat cari yang bersedia donor karena anak saya sangat memerlukan. Rasanya sangat berat, tapi demi anak, apa pun akan kami lakukan,” tutur yadi.





