Komandan SSK TMMD ke-127, Kapten Inf Tri Wahyudi, menjelaskan bahwa pengiriman dari pelabuhan utama terpaksa dilakukan karena terbatasnya ketersediaan alat berat dan bahan bangunan di lokasi sasaran.
“Kami memastikan seluruh material yang dibutuhkan, baik dari segi jumlah maupun kualitas, tiba tepat waktu agar pekerjaan tidak terhambat.
Keterbatasan akses bukanlah halangan. Ini adalah komitmen TNI untuk terus hadir membangun negeri hingga ke daerah terpencil,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan geografis justru menjadi motivasi tambahan bagi Satgas TMMD untuk bekerja lebih maksimal. Program TMMD tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menjadi sarana mempererat kemanunggalan TNI dan rakyat melalui kerja bersama di lapangan.
Semangat gotong royong tampak begitu kental dalam setiap tahapan kegiatan. Warga Desa Penutuk turut membantu proses pembongkaran material, bahkan menyediakan tenaga dan peralatan sederhana untuk mempercepat distribusi ke lokasi pembangunan.
Kebersamaan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan di wilayah kepulauan dapat terwujud melalui kolaborasi yang solid.
Salah satu warga setempat mengaku bersyukur atas kehadiran Satgas TMMD di desanya.
Ia menilai pembangunan jalan dan RTLH akan membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam memperlancar akses transportasi dan distribusi hasil pertanian maupun perikanan.
Program TMMD ke-127 di Pulau Lepar diharapkan mampu membuka keterisolasian wilayah, meningkatkan konektivitas antar desa, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan alat berat dan pasokan material yang terus berdatangan, progres pembangunan pun dipastikan berjalan sesuai target waktu yang telah ditentukan.
Di tengah keterbatasan dan tantangan alam, Satgas TMMD 127 Kodim 0432/Basel membuktikan bahwa semangat pengabdian dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang merata hingga ke pelosok negeri.





