Di sebuah gang bernama Gang Nyamuk di kawasan Citayam, Depok, hiduplah seorang pemuda bernama Dani. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, ditemani cerita-cerita penuh makna dari almarhum ayahnya tentang kampung halaman mereka di Toboali, Bangka Selatan.
Setiap malam, sebelum tidur, sang ayah sering bercerita tentang laut yang tenang, pasir putih yang hangat, dan kehidupan yang damai di kampung mereka. Bagi Dani di masa kecilnya, Toboali terasa seperti negeri yang hanya ada dalam dongeng.
Ia belum benar-benar mengenalnya, tetapi hatinya sudah lebih dulu jatuh cinta.
“Suatu hari, kau harus pulang ke Toboali. Di sanalah asal kita,” pesan ayahnya suatu malam, dengan suara pelan namun penuh makna.
Pesan itu terus hidup, bahkan setelah sang ayah tiada.
Tahun-tahun berlalu Hidup memaksa Dani tumbuh lebih cepat. Hingga pada tahun 2006, dengan keberanian yang ia kumpulkan dari sisa-sisa kenangan dan harapan, Dani memutuskan untuk pulang—ke tempat yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita.
Langkahnya berat meninggalkan Citayam, tetapi hatinya ringan karena ia tahu ke mana harus pergi.
Sesampainya di Toboali, Dani disambut hangat oleh keluarga besar ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa arti “pulang” yang sebenarnya. Namun, hidup tidak serta-merta menjadi mudah. Ia harus memulai segalanya dari nol.
Dani bekerja apa saja. Dari membuka konter Asesoris Hp yang sederhana, membantu usaha pamannya, hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di Salah Satu Bank pada tahun 2008.
Selama sepuluh tahun, ia menjalani pekerjaannya dengan disiplin dan penuh tanggung jawab. Ia tidak pernah mengeluh, karena baginya, setiap langkah adalah bagian dari perjalanan pulang yang ia pilih.
Namun, hidup kembali mengujinya dengan cara yang paling menyakitkan.
Pada tahun 2018, Dani harus meninggalkan pekerjaannya demi merawat ibunya yang terbaring koma di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Hari-harinya diisi dengan doa, harapan, dan air mata.
Ia menggenggam tangan ibunya, berharap keajaiban datang, Namun takdir berkata lain. Sang ibu pergi untuk selamanya.
Di titik itu, dunia Dani seakan runtuh. Ia kehilangan arah, kehilangan pegangan. Tetapi di tengah kesedihan itu, ada satu tangan yang tetap menggenggamnya erat—Riza, istrinya.
Riza bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga tempat Dani bersandar. Bersama, mereka mencoba bangkit dari keterpurukan. Dengan peralatan sederhana, mereka mulai membuat kue di rumah.
Setiap Siang Hingga Malam hari, Dani dan Riza menjajakan kue di pinggir Jalan Sudirman, Toboali.
Panas matahari,Hujan, lelah, dan sepinya pembeli sering kali menguji kesabaran, Namun mereka tidak menyerah.





