“Persahabatan kami bukan soal institusi, tetapi komitmen bersama menjaga martabat pers Indonesia,” ujar Mahmud.
Dalam pandangan PJS, Wina Armada merupakan teladan sejati yang konsisten menjunjung tinggi tiga prinsip utama jurnalisme: independensi, keberimbangan, dan kemerdekaan pers. Ia juga dikenal berani menegaskan batas-batas etik dan profesionalisme di tengah derasnya arus disinformasi dan tekanan berbagai kepentingan politik.
Tak hanya di lapangan jurnalistik, Bang Wina juga meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam lewat karya-karyanya seperti Wajah Hukum Pidana Pers, Hak Pribadi vs Kebebasan Pers, dan Menjadi Ahli Dewan Pers. Buku-buku tersebut kini menjadi rujukan penting bagi para jurnalis, akademisi, dan mahasiswa komunikasi di seluruh Indonesia.
Kehadiran Bang Wina telah menjembatani generasi senior dan muda dalam dunia pers. Ia menjadi penghubung antara idealisme jurnalistik dan kenyataan di lapangan, antara prinsip hukum dan etika profesi.
Kini, sosoknya memang telah tiada, namun semangat, nilai, dan pemikirannya akan terus hidup dalam setiap berita yang ditulis, dalam setiap kelas yang diajar, dan dalam setiap upaya memperjuangkan pers yang sehat, profesional, dan berintegritas.
Selamat jalan, Bang Wina. Terima kasih atas segala dedikasi dan pengabdianmu. Pers Indonesia berduka, tetapi juga berjanji untuk meneruskan jejak langkahmu.





