Saat dimintai tanggapan terkait dugaan aktivitas bongkar muat sawit di area MB, Benny membantah informasi tersebut. Menurutnya, aktivitas bongkar muat sawit tidak dilakukan di fasilitas Movable Bridge.
“Kalau sawit itu pelabuhan sebelah, pakai kapal rakyat, masyarakat. Kalau PT ke pelabuhan syahbandar,” jelasnya.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan diskusi mengenai pentingnya pengawasan terhadap aktivitas kepelabuhanan di kawasan Sadai.
Sejumlah pihak menilai perlu adanya penjelasan yang lebih rinci mengenai pemanfaatan setiap fasilitas pelabuhan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Selain itu, publik juga mempertanyakan apakah faktor usia menjadi satu-satunya penyebab ambruknya MB, atau terdapat faktor lain yang turut berkontribusi, seperti kondisi pemeliharaan maupun evaluasi berkala terhadap struktur jembatan sandar.
Dalam pengelolaan aset publik, infrastruktur yang telah berusia tua idealnya menjalani inspeksi secara rutin, pengujian kelayakan struktur, hingga rehabilitasi preventif.
Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kerusakan yang dapat mengganggu pelayanan publik sekaligus menjamin keselamatan pengguna.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Syahbandar Bangka Selatan belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi terkait peristiwa tersebut.
Team Media masih membuka ruang hak jawab dan menunggu keterangan resmi dari pihak terkait guna memberikan informasi yang utuh, dan berimbang





