Petugas menemukan keberadaan komoditas timah sebelum seluruh muatan diberangkatkan menuju Jakarta.
Berdasarkan perhitungan sementara, aktivitas perdagangan komoditas timah yang diduga ilegal tersebut diperkirakan memiliki potensi nilai kerugian negara mencapai sekitar Rp9.765.000.000.
Estimasi tersebut terdiri atas potensi nilai dari bijih timah sekitar Rp5.565.000.000 dan balok timah sekitar Rp4.200.000.000.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan perhitungan awal. Besaran potensi kerugian negara masih dapat berubah setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam terhadap kadar timah, nilai ekonomis, asal-usul barang, status kepemilikan, serta dokumen pengangkutan dan legalitas komoditas tersebut.
Saat ini, seluruh barang bukti berupa bijih timah kering dan balok timah telah diamankan di GBT Cambai PT Timah. Pengamanan dilakukan untuk menjaga barang bukti sekaligus mendukung proses pemeriksaan dan penegakan hukum lebih lanjut.
Satlap Tri Cakti bersama KSOP Pangkal Balam juga terus melakukan pendalaman terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam pengiriman tersebut.
Penelusuran diarahkan tidak hanya kepada pihak yang mengangkut barang, tetapi juga terhadap pemilik, pengumpul, pemodal, pengendali, hingga pihak yang diduga menjadi pembeli atau penerima barang di Jakarta.
Pendalaman ini dinilai penting untuk mengungkap apakah pengiriman tersebut merupakan aktivitas yang dilakukan secara mandiri atau bagian dari jaringan perdagangan timah ilegal yang lebih luas.
Satlap Tri Cakti menegaskan akan terus memperketat pengawasan terhadap distribusi komoditas timah melalui jalur laut. Penindakan diharapkan tidak berhenti pada pengamanan barang bukti, tetapi dapat mengungkap mata rantai perdagangan ilegal hingga ke pihak yang berada di balik pembiayaan dan pengendalian aktivitas tersebut.
Masyarakat dan pelaku usaha juga diimbau tidak terlibat dalam kegiatan perdagangan, pengangkutan, penampungan, maupun distribusi bijih dan balok timah yang tidak memiliki dokumen serta legalitas sesuai ketentuan.
Pengungkapan hampir 15 ton timah tersebut kini masih dalam proses pendalaman. Aparat terkait diharapkan dapat mengungkap secara menyeluruh asal-usul barang, pihak yang terlibat, tujuan pengiriman, serta jaringan yang diduga berada di balik aktivitas tersebut.





