Hal senada disampaikan Rikky Fermana. Ia mengungkapkan bahwa banyak peserta diskusi, khususnya mahasiswa, baru memahami secara mendasar apa itu teknologi PLTN Thorium, bagaimana konsep reaktornya, serta posisi Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis energi fosil di masa depan.
“Diskusi ini membuka wawasan bahwa persoalan energi bukan hanya soal hari ini, tetapi puluhan tahun ke depan. Kita mungkin belum tentu menikmati hasilnya, namun generasi mendatang yang akan merasakannya,” ujar Rikky.
Ia menegaskan bahwa forum tersebut tidak dimaksudkan untuk menggiring opini mendukung atau menolak. Sebaliknya, diskusi dihadirkan sebagai ruang netral agar masyarakat dapat mengambil sikap secara rasional dan berbasis data.
“Setuju atau tidak adalah hak setiap warga. Tetapi keputusan yang diambil harus berdasarkan informasi yang cukup. Jangan sampai kita mengambil sikap hanya karena emosi atau asumsi,” tegasnya.
Menurut Rikky, isu PLTN Thorium di Bangka Belitung memang akan terus diwarnai dinamika. Namun ia berharap perdebatan yang terjadi ke depan lebih substansial dan tidak terjebak pada narasi spekulatif.
Menutup pernyataannya, Natsir dan Rikky kembali menyampaikan terima kasih kepada Andri Yanto atas kontribusinya dalam diskusi tersebut.
“Terima kasih sudah hadir dan berbagi pengetahuan. Kehadiran Anda menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Babel bahwa kita mampu bersaing di sektor teknologi maju,” pungkas keduanya.
Diskusi publik ini menjadi penanda bahwa Bangka Belitung tidak menutup diri terhadap isu energi masa depan. Namun satu pesan yang mengemuka: sebelum gaduh oleh opini, masyarakat perlu diperkaya oleh literasi dan pemahaman berbasis data serta fakta.





