Alarm Bahaya,Kratom Ancaman Masa Depan Pelajar Bangka Selatan

Kasus ini bermula dari kecurigaan pihak sekolah terhadap perilaku siswa yang kerap tidak berada di dalam kelas saat jam pelajaran berlangsung. Ketidakhadiran yang terjadi berulang kali mendorong guru untuk melakukan pencarian di sekitar lingkungan sekolah. Dari hasil penelusuran tersebut, siswa akhirnya ditemukan sedang mengonsumsi Kratom.

Saat dilakukan pemeriksaan terhadap tas siswa, guru menemukan Kratom yang dikemas dalam plastik dan diduga sebagai persediaan untuk penggunaan selanjutnya. Temuan ini kemudian segera ditindaklanjuti dengan membawa siswa ke BNN Kabupaten Bangka Selatan guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dalam pengakuannya kepada petugas BNN, siswa tersebut menyebutkan bahwa dirinya telah mengonsumsi Kratom secara rutin. Ia mengaku jika tidak mengonsumsi Kratom, tubuh terasa lemas, mengantuk, dan tidak bersemangat mengikuti aktivitas belajar. Sebaliknya, setelah mengonsumsi Kratom, ia justru mengalami gangguan tidur hingga tidak bisa tidur semalaman.

Siswa tersebut juga mengungkapkan bahwa Kratom diperolehnya dengan cara memesan secara Online melalui salah satu platform belanja online. Harga yang dibayarkan sekitar Rp50 ribu untuk kemasan 500 gram. Lebih memprihatinkan lagi, siswa tersebut menyebutkan bahwa terdapat sekitar 20 siswa lain di sekolahnya yang diketahui turut mengonsumsi Kratom.

Menindaklanjuti temuan tersebut, BNN Kabupaten Bangka Selatan telah melakukan asesmen dan konseling terhadap siswa yang bersangkutan. Selain itu, pihak sekolah juga diberikan edukasi terkait bahaya Kratom serta pentingnya pengawasan terhadap perilaku peserta didik.

“Jika tidak ditangani sejak dini, penggunaan Kratom dapat berdampak fatal dan berpotensi merusak kesehatan fisik, psikis, serta masa depan pelajar,” tegas Hendra Amoer.

BNN Kabupaten Bangka Selatan menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah atas langkah cepat dan tepat dalam menangani kasus tersebut. Menurutnya, sinergi antara sekolah, orang tua, dan BNN sangat diperlukan dalam mencegah penyalahgunaan zat berbahaya di kalangan pelajar.

“Kolaborasi semua pihak menjadi kunci utama agar generasi muda Bangka Selatan dapat terlindungi dari ancaman yang merusak masa depan mereka,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *