Pangkalpinang, Radarnyamuk.com, – Ketegangan antara masyarakat Desa Air Anyir, Kabupaten Bangka, dengan tim *Satgas Tricakti* diduga menjadi pemicu insiden pengeroyokan terhadap sejumlah wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik di area gudang PT PMM, sekira pukul 10.00 wib, Sabtu (7/3/2026).
Tiga wartawan yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut yakni Dedy Wahyudi dari BABELFAKTUAL.COM, Frendy Primadana (Kontributor TV One Bangka Belitung), dan Wahyu Kurniawan dari SUARAPOS.COM.
Ketiganya datang ke lokasi untuk mengonfirmasi informasi yang beredar luas di grup WhatsApp mengenai keributan antara masyarakat Air Anyir dengan tim satuan lapangan Satgas Tricakti yang dipimpin oleh Dantim Kapten DV.

Keributan itu sendiri dipicu oleh tindakan penghentian sejumlah truk pengangkut pasir tailing yang hendak masuk ke area pabrik PT PMM.
Tim Satgas Tricakti melakukan penghadangan karena mencurigai muatan truk tersebut sebagai pasir timah ilegal.
Namun keterangan para sopir truk dan warga menyebutkan muatan tersebut merupakan pasir tailing yang mengandung mineral zirkon, bukan pasir timah sebagaimana yang dicurigai.
Bahkan pihak perusahaan disebut telah menjelaskan bahwa material tersebut merupakan pasir zirkon yang sebagian merupakan milik masyarakat serta sebagian lainnya milik perusahaan yang dititipkan kepada pengepul mitra dari IUP PT PMM.

Meski demikian, kecurigaan tim Satgas Tricakti tetap berujung pada pemeriksaan terhadap kendaraan yang melintas menuju area pabrik.
Tindakan tersebut memicu ketegangan karena warga menilai penghadangan dilakukan secara berlebihan dan melampaui kewenangan.
Situasi kemudian memanas ketika ratusan warga berkumpul di depan kawasan pabrik. Adu argumen antara warga dan anggota Satgas Tricakti tak terhindarkan hingga berujung pada keributan.
Dalam rekaman video yang sempat beredar, terlihat cekcok mulut antara warga dengan anggota satgas sebelum akhirnya terjadi aksi pemukulan terhadap salah satu anggota tim Satgas Tricakti yang diduga dilakukan oleh massa yang tersulut emosi.
Keributan tersebut akhirnya mereda setelah dilakukan upaya mediasi. Kapten DV selaku komandan tim Satgas Tricakti di hadapan ratusan warga menyampaikan permohonan maaf atas insiden yang terjadi.
Permintaan maaf tersebut menjadi bagian dari kesepakatan damai antara masyarakat dengan tim satgas yang dicapai.
Namun situasi di sekitar lokasi masih dipenuhi emosi massa. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya kondusif itulah para wartawan tiba di lokasi untuk melakukan peliputan dan konfirmasi.
Kehadiran para jurnalis tersebut diduga disalahartikan oleh sebagian pihak sebagai bagian dari rombongan yang datang bersama tim Satgas Tricakti yang lainnya saat itu juga kembali mendatangi lokasi.





