Mahmud Marhaba dan Wina Jadi Pengantin Melayu di Pulau Mas Kawin

Senyum dan gelak tawa pun pecah di antara para wartawan peserta Rakernas yang bertindak sebagai tamu undangan pernikahan. Kamera ponsel berlomba-lomba mengabadikan momen langka tersebut.

“Selamat ya, Pak Ketum. Semoga bahagia dan langgeng hingga akhir hayat,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PJS, Amril Agin, disambut senyum dan tawa tamu lainnya.

Ucapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di tengah suasana adat yang kental, ada doa tulus yang terselip, semoga cinta yang telah mereka rawat selama ini senantiasa tumbuh, menguat, dan menua bersama.

Usai prosesi bersanding, Mahmud dan Wina melayani sesi foto bersama dengan para peserta Rakernas III PJS yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Beragam pose tercipta. Ada yang formal, ada pula yang penuh canda. Semuanya berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kegembiraan.

Pulau Penyengat hari itu bukan sekadar menjadi destinasi wisata sejarah. Ia menjelma menjadi panggung kenangan, tempat sebuah keluarga merayakan cinta, sekaligus tempat para insan pers dari berbagai penjuru Nusantara mengenal lebih dekat kekayaan adat dan budaya Melayu Kepulauan Riau.

Di balik senyum pengantin Melayu itu, tersimpan pula pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu yang dipajang di museum atau dikenang dalam buku sejarah. Kebudayaan adalah kehidupan yang terus dirawat, diperkenalkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bagi Mahmud Marhaba, pengalaman tersebut tentu menjadi salah satu kenangan paling berkesan selama mengikuti rangkaian kegiatan Rakernas III PJS di Batam, Kepulauan Riau.

Setelah prosesi adat dan sesi foto bersama berakhir, Mahmud tak lupa menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau serta Badan Pengusahaan (BP) Batam yang telah memberikan dukungan terhadap suksesnya pelaksanaan Rakernas III PJS.

“Alhamdulillah, pelaksanaan Rakernas III PJS di Batam berjalan sukses berkat dukungan Gubernur Kepri dan Kepala BP Batam. Terima kasih untuk keduanya. Terima kasih juga secara khusus kepada Sekda Kepri, Ibu Misni, yang terus mengawal rangkaian kegiatan Rakernas di Batam hingga ke Pulau Penyengat,” kata Mahmud.

Baginya, dukungan tersebut bukan sekadar bentuk fasilitasi terhadap sebuah agenda organisasi. Lebih dari itu, merupakan wujud persahabatan, penghormatan, dan keterbukaan Pemerintah Daerah serta BP Batam dalam menyambut insan pers dari berbagai penjuru Indonesia.

Rakernas III PJS mungkin telah usai. Namun, kenangan tentang Batam, keramahan masyarakat Melayu, dan pengalaman menjadi pengantin di Pulau Mas Kawin akan tetap tersimpan dalam ingatan.

Sebab, tidak setiap hari seorang Ketua Umum organisasi wartawan berkesempatan menjadi pengantin Melayu di sebuah pulau yang pernah menjadi mas kawin seorang sultan untuk permaisurinya.

Dan di Pulau Penyengat, di antara jejak sejarah Sultan Mahmud dan Engku Putri Raja Hamidah, Mahmud Marhaba dan Wina pulang membawa cerita tentang cinta yang dibalut budaya, serta persahabatan yang dirajut dalam suasana penuh kekeluargaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *