Permintaan itu ternyata menjadi awal dari sebuah pertunjukan yang tak sekadar menghibur. Tanpa harus terpaku pada lembaran teks, AWe tampil penuh percaya diri. Ia seperti sedang berdialog dengan kata-kata, menghidupkan setiap larik, sekaligus mengajak pendengarnya menyelami pesan yang tersembunyi di balik bait-bait puisi.
Kepiawaiannya mengolah suara dan memainkan emosi membuat suasana ruangan berubah. Peserta yang sebelumnya mulai kehilangan konsentrasi kembali terjaga. Perhatian tertuju kepadanya. Bahkan, Mahmud Marhaba mengaku ikut merasakan getaran emosi dari puisi yang dibacakan tersebut.
“Penjiwaannya luar biasa. Saya merinding mendengarnya. Peserta yang mulai ngantuk langsung segar,” ungkap Mahmud.
Bagi AWe, puisi tampaknya bukan sekadar rangkaian kata yang dibaca dengan suara lantang. Puisi adalah perasaan yang diberi suara, kegelisahan yang menemukan bahasa, dan pesan kehidupan yang disampaikan melalui keindahan diksi.
Dua puisi yang dibawakannya menjadi warna tersendiri di tengah agenda organisasi yang sarat pembahasan dan konsolidasi. Di ruang Rakernas itu, AWe mengingatkan bahwa dunia pers dan dunia seni sesungguhnya memiliki satu persinggungan, keduanya sama-sama bertumpu pada kekuatan kata-kata.
“Bedanya, jurnalis menyampaikan kenyataan melalui berita, sementara penyair merawat kenyataan melalui rasa dan imajinasi. Keduanya membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa,” kata AWe.





